Minggu, 05 Februari 2012

“QOU VADIS MAHASISWA UNDOVA”


Adalah perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat yang bernaung di bawah yayasan wakaf Pondok Pesantren Al-Ikhlas yang bernama Universitas Cordova. Sejak didirikannya, pada tahun 2004, UNDOVA telah menampung ± 1500 - san mahasiswa yang sebagiannya sudah diwisudakan atas kerjasama dengan perguruan tinggi di luar KSB. Ijin operasional dan pendirian Universitas Cordova  resmi dikeluarkan oleh kementerian pendidikan pada tahun 2009 yang artinya Universitas ini juga masih sebagai satu-satunya perguruan tinggi di Sumbawa barat yang legal.
            Bahwasanya awal tahun 2012 ini, Universitas Cordova sedang di uji konsistensinya dalam mencetak generasi bangsa yang sudah tertuang di dalam visi UNDOVA. Kondisinya adalah Universitas Cordova telah diambil alih oleh yayasan dalam rangka penyelamatan lembaga dengan merujuk pada kondisi Universitas Cordova yang sedang tidak kondusif untuk dilakukan proses perkuliahan segingga pihak yayasan berkesimpulan untuk menon-aktifkan sementara perkuliahan di Universitas Cordova yang berawal dari pemberlakuan Surat Keputusan Pimpin Yayasan tentang struktur pimpinan UNDOVA.
sehingga dengan diberlakukannya surat keputusan pimpinan yayasan pondok pesantren Al Ikhlas No 40 tentang struktur Pengurus Universitas Cordova periode 2012-2015 telah memicu gelombang gerakan / aksi demontrasi yang dilakukan oleh beberapa kalangan mahasiswa yang menilai SK tersebut tidak melalui mekanisme/ aturan yang belaku di Universitas Cordova ataupun statuta UNDOVA.
Inti dan  pemicu pertama gerakan mahasiswa saat itu adalah pergantian pembantu rektor I (PR) dari DR. Ir. H. amri Rahman M. Si oleh Ust. Amir Ma’ruf Husain S.Pdi., MM. beserta beberapa dosen dan staf di bawahnya.
Isu berikutnya adalah SK yang diterbitkan oleh pimpinan yayasan DR. KH. Zulkifli Muhadli SH.,MM  tersebut dinilai tidak melalui mekanisme atau tidak sesuai dengan statuta universitas cordova tentang pergantian pimpinan yaitu PR I, II dan III yang pergantiannya dilakukan oleh Rektor.
Gelombang perlawanan yang dilakukan oleh mahasiswa terus berlanjut yang dipicu oleh dikeluarkannya kebijakan pimpinan yayasan untuk menon-aktifkan sementara kampus Universitas Cordova dalam waktu yang tidak ditentukan serta kebijakan bahwa mahasiswa yang masih ingin berkuliah di Universitas Cordova harus mengisi surat pernyataan dari yayasan bahwa mahasiswa tersebut akan melanjutkan perkuliahan di undova serta taat dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pimpinan Universitas Cordova.
Sebagai bukti dari perlawanan mahasiswa berikutnya adalah munculnya gerakan-gerakan baru yang mengatas namakan mahasiswa penyelamat Universitas Cordova yaitu AMPU” ( Aliansi Mahasiswa Penyelamat Undova) yang dimotori oleh mahasiswa semester atas yang memang tidak puas dengan manajemen universitas cordova dan menginginkan reformasi tersebut. Sehingga Aliansi ini mengeluarkan tuntutan yang dinamakan trituma ( tiga tuntutan mahasiswa) yaitu 1. Tolak SK No 40/PPI/2012 tentang struktur universitas cordova peroide 2012-2015 serta Tolak surat pernyataan yang disebarkan oleh PR II karena dinilai cacat hukum dan menciderai demokrasi, 2. Pisahkan undova dan ponpes Al- Ikhlas dalam segi manajemen dan pemgorganisasian untuk menghindari dualisme kepemimpinan, 3. Perjelas posisi BEM dan DPM dalam struktur senat UNDOVA.
Gerakan berikutnya adalah gerakan yang mengatas namakan mahasiswa yang dikendalikan oleh Badan Eksekutiv Mahasiswa (BEM). Ketua BEM Deni Murdani dalam pertemuan yang di gagasnya di masjid Ar- Rahman pada hari selasa (03/12)  menyatakan dengan tegas bentuk perlawanan mahasiswa dari kebijakan tersebut adalah “ Jangan Memgisi surat Pernyataan yang Diinginkan Oleh Yayasan Karena dinilai tidak mendasar.
Dipihak lain mahasiswa yang suaranya masih liar dan merasakan kebingungan atas persoalan yang terjadi, merasa sangat dirugikan dengan tindakan dan arogansi kebijakan yang melahirkan kekisruhan tersebut. Banyak kalangan yang menilai bahwa pimpinan yayasan terlalu sporadic dalam pengambilan keputusan yang tidak melihat secara konferhensip kondisi yang terjadi sehingga mahasiswa hari ini menjadi “korban” dari keganasan kaum elit yang ada di Universitas Cordova.
Sementara itu yang memicu kekhawatiran mahasiswa lainnya adalah terjadinya kesimpang siuran informasi, baik dari pesan singkat yang beredar maupun media massa yang berujung pada ketakutan yang berlebihan “ apakah mahasiswa undova akan masih berkuliah atau tidak pasca kekisruhan serta ketidak jelasan informasi ini. ???
Bukan hanya dampaknya pada mahasiswa kebijakan ini, orang tua mahasiswa yang sudah percaya dengan Universitas Cordova yang akan mengwisudakan anaknya saat ini pesimis dengan UNDOVA, bahkan banyak kalangan yang sudah melontarkan mossi tidak percaya terhadap pimpinan yayasan ini.
Menanggapi masalah yang dihadapi oleh mahasiswa tersebut, pimpinan yayasan yang  disampaikan melalui media massa, “akan tetap konsisten dengan kebijakannya dan tidak akan dirubahnya” bahkan pernyataan ini langsung di sampaikan oleh Bupati Sumbawa Barat yang notabene adalah pimpinan yayasan Pondok Pesantren AL- Ikhlas dalam Apel pagi   di depan Graha Fitrah di hadapan seluruh pegawai yang ada di lingkup pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat.
Lantas, pertanyaannya sekarang adalah, akan dibawa kemana mahasiswa ini??? Dengan kebijakannya pimpinan yayasan mungkin saja benar dengan alibi penyelamatan yayasan namun disisi lain telah melakukan “penjarahan” hak azasi mahasiswa di sana. Tentunya dari banyak kalangan sudah memberikan  penilaiannya dari analisa yang berbeda bahwa dampak dari kebijakan ini bukan saja berpengaruh pada mahasiswa yang hari ini sedang berkuliah di Universitas Cordova namun akan punya muty player efek dari kebijakan tersebut. Banyak kalangan menilai bahwa dengan kebijakan tersebut akan berpengaruh pada popularitas bupati itu sendiri, termasuk rival-rival politiknya akan menggunakan momen ini sebagai blounder bahwa Bupati sumbawa barat dalam kepemimpinannya tidak terlalu sukses dalam mengambil kebijakan.
Melalui tulisan ini, penulis berharap kepada semua pihak yang peduli kepada Universitas Cordova dalam penyelsaian masalah ini, untuk selalu mengedepankan intelektualitas serta cenderung pada kebenaran dalam brsikap. Bukan justru memamfaatkan momen ini sebagai isu untuk menjatuhkan. Yang perlu dijadikan pembahasan  dan pertimbangan besar adalah di dalam Universitas Cordova ini terdapat ribuan generasi Kabupaten Sumbawa Barat, yang note bene adalah kader umat dan kader bangsa yang harus dilindungi keberlangsungannya. Baik itu pimpinan yayasan, mahasiswa dan seluruh pihak yang masih menginginkan Universitas Cordova ini Berjaya.

Tidak ada komentar: