Adalah perguruan tinggi
yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat yang bernaung di bawah yayasan wakaf Pondok
Pesantren Al-Ikhlas yang bernama Universitas Cordova. Sejak didirikannya, pada
tahun 2004, UNDOVA telah menampung ± 1500 - san mahasiswa yang sebagiannya
sudah diwisudakan atas kerjasama dengan perguruan tinggi di luar KSB. Ijin
operasional dan pendirian Universitas Cordova
resmi dikeluarkan oleh kementerian pendidikan pada tahun 2009 yang
artinya Universitas ini juga masih sebagai satu-satunya perguruan tinggi di
Sumbawa barat yang legal.
Bahwasanya
awal tahun 2012 ini, Universitas Cordova sedang di uji konsistensinya dalam
mencetak generasi bangsa yang sudah tertuang di dalam visi UNDOVA. Kondisinya
adalah Universitas Cordova telah diambil alih oleh yayasan dalam rangka
penyelamatan lembaga dengan merujuk pada kondisi Universitas Cordova yang
sedang tidak kondusif untuk dilakukan proses perkuliahan segingga pihak yayasan
berkesimpulan untuk menon-aktifkan sementara perkuliahan di Universitas Cordova
yang berawal dari pemberlakuan Surat Keputusan Pimpin Yayasan tentang struktur
pimpinan UNDOVA.
sehingga dengan
diberlakukannya surat keputusan pimpinan yayasan pondok pesantren Al Ikhlas No 40
tentang struktur Pengurus Universitas Cordova periode 2012-2015 telah memicu
gelombang gerakan / aksi demontrasi yang dilakukan oleh beberapa kalangan mahasiswa
yang menilai SK tersebut tidak melalui mekanisme/ aturan yang belaku di Universitas
Cordova ataupun statuta UNDOVA.
Inti dan pemicu pertama gerakan mahasiswa saat itu
adalah pergantian pembantu rektor I (PR) dari DR. Ir. H. amri Rahman M. Si oleh
Ust. Amir Ma’ruf Husain S.Pdi., MM. beserta beberapa dosen dan staf di
bawahnya.
Isu berikutnya adalah
SK yang diterbitkan oleh pimpinan yayasan DR. KH. Zulkifli Muhadli SH.,MM tersebut dinilai tidak melalui mekanisme atau
tidak sesuai dengan statuta universitas cordova tentang pergantian pimpinan
yaitu PR I, II dan III yang pergantiannya dilakukan oleh Rektor.
Gelombang perlawanan
yang dilakukan oleh mahasiswa terus berlanjut yang dipicu oleh dikeluarkannya
kebijakan pimpinan yayasan untuk menon-aktifkan
sementara kampus Universitas Cordova dalam waktu yang tidak ditentukan serta
kebijakan bahwa mahasiswa yang masih ingin berkuliah di Universitas Cordova harus
mengisi surat pernyataan dari yayasan bahwa mahasiswa tersebut akan melanjutkan
perkuliahan di undova serta taat dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh
pimpinan Universitas Cordova.
Sebagai bukti dari
perlawanan mahasiswa berikutnya adalah munculnya gerakan-gerakan baru yang
mengatas namakan mahasiswa penyelamat Universitas Cordova yaitu AMPU” ( Aliansi
Mahasiswa Penyelamat Undova) yang dimotori oleh mahasiswa semester atas yang
memang tidak puas dengan manajemen universitas cordova dan menginginkan
reformasi tersebut. Sehingga Aliansi ini mengeluarkan tuntutan yang dinamakan trituma ( tiga tuntutan mahasiswa) yaitu
1. Tolak SK No 40/PPI/2012 tentang struktur universitas cordova peroide
2012-2015 serta Tolak surat pernyataan yang disebarkan oleh PR II karena
dinilai cacat hukum dan menciderai demokrasi, 2. Pisahkan undova dan ponpes Al-
Ikhlas dalam segi manajemen dan pemgorganisasian untuk menghindari dualisme
kepemimpinan, 3. Perjelas posisi BEM dan DPM dalam struktur senat UNDOVA.
Gerakan berikutnya
adalah gerakan yang mengatas namakan mahasiswa yang dikendalikan oleh Badan
Eksekutiv Mahasiswa (BEM). Ketua BEM Deni Murdani dalam pertemuan yang di
gagasnya di masjid Ar- Rahman pada hari selasa (03/12) menyatakan dengan tegas bentuk perlawanan
mahasiswa dari kebijakan tersebut adalah “ Jangan Memgisi surat Pernyataan yang
Diinginkan Oleh Yayasan Karena dinilai tidak mendasar.
Dipihak lain mahasiswa
yang suaranya masih liar dan merasakan kebingungan atas persoalan yang terjadi,
merasa sangat dirugikan dengan tindakan dan arogansi kebijakan yang melahirkan
kekisruhan tersebut. Banyak kalangan yang menilai bahwa pimpinan yayasan
terlalu sporadic dalam pengambilan keputusan yang tidak melihat secara
konferhensip kondisi yang terjadi sehingga mahasiswa hari ini menjadi “korban”
dari keganasan kaum elit yang ada di Universitas Cordova.
Sementara itu yang
memicu kekhawatiran mahasiswa lainnya adalah terjadinya kesimpang siuran
informasi, baik dari pesan singkat yang beredar maupun media massa yang
berujung pada ketakutan yang berlebihan “ apakah
mahasiswa undova akan masih berkuliah atau tidak pasca kekisruhan serta ketidak
jelasan informasi ini. ???
Bukan hanya dampaknya
pada mahasiswa kebijakan ini, orang tua mahasiswa yang sudah percaya dengan Universitas
Cordova yang akan mengwisudakan anaknya saat ini pesimis dengan UNDOVA, bahkan
banyak kalangan yang sudah melontarkan mossi tidak percaya terhadap pimpinan
yayasan ini.
Menanggapi masalah yang
dihadapi oleh mahasiswa tersebut, pimpinan yayasan yang disampaikan melalui media massa, “akan tetap konsisten dengan kebijakannya dan
tidak akan dirubahnya” bahkan pernyataan ini langsung di sampaikan oleh
Bupati Sumbawa Barat yang notabene adalah pimpinan yayasan Pondok Pesantren AL-
Ikhlas dalam Apel pagi di depan Graha
Fitrah di hadapan seluruh pegawai yang ada di lingkup pemerintah Kabupaten
Sumbawa Barat.
Lantas,
pertanyaannya sekarang adalah, akan dibawa kemana mahasiswa ini???
Dengan kebijakannya pimpinan yayasan mungkin saja benar dengan alibi penyelamatan yayasan namun disisi
lain telah melakukan “penjarahan” hak
azasi mahasiswa di sana. Tentunya dari banyak kalangan sudah memberikan penilaiannya dari analisa yang berbeda bahwa
dampak dari kebijakan ini bukan saja berpengaruh pada mahasiswa yang hari ini
sedang berkuliah di Universitas Cordova namun akan punya muty player efek dari kebijakan tersebut. Banyak kalangan menilai
bahwa dengan kebijakan tersebut akan berpengaruh pada popularitas bupati itu
sendiri, termasuk rival-rival politiknya akan menggunakan momen ini sebagai
blounder bahwa Bupati sumbawa barat dalam kepemimpinannya tidak terlalu sukses
dalam mengambil kebijakan.
Melalui tulisan ini,
penulis berharap kepada semua pihak yang peduli kepada Universitas Cordova dalam
penyelsaian masalah ini, untuk selalu mengedepankan intelektualitas serta cenderung
pada kebenaran dalam brsikap. Bukan justru memamfaatkan momen ini sebagai isu
untuk menjatuhkan. Yang perlu dijadikan pembahasan dan pertimbangan besar adalah di dalam Universitas
Cordova ini terdapat ribuan generasi Kabupaten Sumbawa Barat, yang note bene
adalah kader umat dan kader bangsa yang harus dilindungi keberlangsungannya.
Baik itu pimpinan yayasan, mahasiswa dan seluruh pihak yang masih menginginkan Universitas
Cordova ini Berjaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar