Pesta demokrasi Nusa Tenggara
Barat (NTB) akan kembali di gelar. Pada tanggal 5 Mei 2013 mendatang akan
menjadi ajang pembuktian untuk rakyat NTB sejauh mana pendewasaannya dalam
menerjemahkan Demokrasi. Pasalnya Negara republic Indonesia semenjak reformasi
bergulir telah memberikan harapan baru bagi rakyat Indonesia untuk berkarya.
Sebut saja yang sangat di idam-idamkan oleh teriakan reformasi adalah “demokrasi”.
Demokrasi ini akan memberikan jaminan kepada rakyat untuk berpendapat, dipilih
dan memilih perwakilannya begitu pengertiannya.
Nusa Tenggara Barat yang
terdiri dari dua pulau yaitu pulau Lombok dan pulau Sumbawa ini cukup menyita
perhatian banyak orang. Pasalnya NTB memiliki tiga suku berbeda yaitu suku
sasak, suku samawa dan suku mbojo. Tiga suku berbeda watak ini memberikan warna
yang sangat khas dalam kehidupan masyarakat NTB. Belum lagi di NTB terdapat
sebuah organisasi masyarakat yang sangat dominan yaitu Nahdatul Wathan (NW). Jamaah
Nahdatul Wathan hampir tersebar di seluruh wilayah NTB yang dominan digeluti
oleh suku sasak. Selain juga ormas-ormas lain seperti NU, Muhamadyah dan
lain-lain. Bahkan di NTB merupakan tempat kediaman masyarakat Bali yang
beragama hindu.
Gambaran kondisi NTB di
atas cukup memberikan kita data mentah tentang masyarakat NTB dalam kanca
panasnya perpoloitikan mei mendatang. Pesta demokrasi NTB, bukan saja akan
memberikan suhu panas namun akan memaksa semua orang untuk berbicara tentang
perbaikan untuk NTB, meskipun bukan yang sebenarnya. Karena bisa saja untuk
mendapatkan kasta tertinggi dalam politik orang-orang tertentu bisa saja
melakukan apa saja. Hal ini tentu yang akan menciderai demokrasi di Indonesia
khususnya di NTB.
Mari kita cermati
beberapa calon gubernur dan wakil gubernur yang akan merebut posisi NTB satu
2013-2018 mendatang. Hampir semuanya berlatar belakan ulama. Meskipun ada
beberapa yang berlatar belakan akademisi dan politisi murni. Hal ini tentu dapat
memberikan kita ketenangan sejenak, pasalnya putra-putra NTB ini akan beriktiar
memberikan yang terbaik untu NTB kedepannya. Namun apakah semuanya itu benar
adanya. ???
Sudah menjadi ketentuan
bahwa semboyan dari calon-caon adalah perubahan untuk NTB, pertanyaannya
perubahan seperti apa?? Kembali berbicara pada tahap perubahan, tentu tidak
saja berkutat masalah posisi untuk meraih kursi kekuasaan. Perlu di ingat
kembali rakyat sudah tidak butuh janji-janji, yang meskipun rakyar selalu saja
dibodohi dengan janji-janji.
Yang paling mungkin kita pilih untuk membawa
perubahan kapada daerah kita adalah yang memahami agama. Tentu semua calon hari
ini telah memenuhi criteria tersebut. Lalu apakah mereka benar-benar mahamahi
amanah??? Ataukah keadilan yang mereka selalu teriakan akan terwujud???
Sementara petani setiap musim tanam tiba mereka meneriakkan kelangkaan pupuk,
nelayan menangis karena tangkapan ikannya semakin hari semakin berkurang serta
buruh-buruh tambang yang selalu meributkan upah, selain itu pengangguran
semakin ramai saja mengisi ruang jalan-jalan. Tentu ini bukan tontonan atau
masalah yang baru kali ini di ketahui. Semenjak republic ini dideklirkan pun
masalah ini sudah terurai jelas.
Lalu apa yang salah
dengan calon pemimpin kita saat ini? Apakah patut rakyat yang memilih yang
harus dipersalahkan? Apakah republic ini yang tidak terlalu respon dengan
masalah-masalah di atas? Atau memang kesejahteraan itu memang tidak pernah ada?
NTB yang berdiri puluhan tahun lalu, melulu begitu
adanya, dengan permasalah yang sama-sama saja. Dengan pertangayaan yang
begitu-begitu saja. Sekali lagi penulis ulangi, rakyat hanya butu kesejahtraan
hidup.
Kali ini sebagai ajang
pembuktian, apakah pemimpin yang akan dilahirkan dari pemihan umum daerah 2013
akan benar-benar melahirkan pemimpin yang mengerti perasaan rakyatnya.
Dalam territorial NTB, tentu perasaan yang dimaksud
adalah sejauh mana pemimpin nantinya dapat memberikan rasa aman bagi rakyatnya,
terlalu banyak peperangan-peperangan sara yang terjadi, masih banyak rakyat
yang belum mengerti kerukunan umat dan budaya. Tentu kejadian heroic yang
terjadi baru-baru ini di Sumbawa basar. Rasanya sudah tidah ada lagi toleransi
lagi. Bukankah ini tugas seorang pemimpin yang bijak?
Sekali lagi, pemimpin
yang menjadi dambaan rakyat hari ini adalah pemimpin yang mengerti plurarisme,
mengerti perasaan rakyat, mengerti kadadilan serta patuh berkarya hanya untuk
kamaslahatan. Bukan justru pemimpin yang hanya bisa mengurusi dan merias diri
saja. Rakyat NTB mutuh pemimpin yang lengakap, bukan pemimpin yang cacat.
Rakyat NTB butuh pemimpin yang taat bukan pemimpin yang laknat rakyat. Rakyat NTB
butuh pemimpin yang merakyat, bukan yang suka saling menghujat.
Tulisan ini merupakan
isi hati anak bangsa yang merindukan kedamaian, yang mengharapkan tontonan
menarik dalam pesta bersama, bukan merebut dengan paksaan. Namun apakah pantas
memilih pemimpin yang tamak kekuasaan?
Sudah saatnya masyarakat NTB bijak dalam memilih
pemimpinnya. Kini saanya rakyat memilih pemimpin yang cinta rakyat, bukan yang
selalu berbohong kapada rakyat. Kasekian
kalinya, rakyat membutuhkan pemimpin yang taat bukan pemimpin yang laknat dan
senang menghujat untuk Nusa Tenggara Barat
yang bertabat.**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar