Minggu, 10 Februari 2013

MEMILIH PEMIMPIN YANG TAAT UNTUK NTB BERMARTABAT; Menelisik Pesta demokrasi NTB 2013



Pesta demokrasi Nusa Tenggara Barat (NTB) akan kembali di gelar. Pada tanggal 5 Mei 2013 mendatang akan menjadi ajang pembuktian untuk rakyat NTB sejauh mana pendewasaannya dalam menerjemahkan Demokrasi. Pasalnya Negara republic Indonesia semenjak reformasi bergulir telah memberikan harapan baru bagi rakyat Indonesia untuk berkarya. Sebut saja yang sangat di idam-idamkan oleh teriakan reformasi adalah “demokrasi”. Demokrasi ini akan memberikan jaminan kepada rakyat untuk berpendapat, dipilih dan memilih perwakilannya begitu pengertiannya.
Nusa Tenggara Barat yang terdiri dari dua pulau yaitu pulau Lombok dan pulau Sumbawa ini cukup menyita perhatian banyak orang. Pasalnya NTB memiliki tiga suku berbeda yaitu suku sasak, suku samawa dan suku mbojo. Tiga suku berbeda watak ini memberikan warna yang sangat khas dalam kehidupan masyarakat NTB. Belum lagi di NTB terdapat sebuah organisasi masyarakat yang sangat dominan yaitu Nahdatul Wathan (NW). Jamaah Nahdatul Wathan hampir tersebar di seluruh wilayah NTB yang dominan digeluti oleh suku sasak. Selain juga ormas-ormas lain seperti NU, Muhamadyah dan lain-lain. Bahkan di NTB merupakan tempat kediaman masyarakat Bali yang beragama hindu.
Gambaran kondisi NTB di atas cukup memberikan kita data mentah tentang masyarakat NTB dalam kanca panasnya perpoloitikan mei mendatang. Pesta demokrasi NTB, bukan saja akan memberikan suhu panas namun akan memaksa semua orang untuk berbicara tentang perbaikan untuk NTB, meskipun bukan yang sebenarnya. Karena bisa saja untuk mendapatkan kasta tertinggi dalam politik orang-orang tertentu bisa saja melakukan apa saja. Hal ini tentu yang akan menciderai demokrasi di Indonesia khususnya di NTB.
Mari kita cermati beberapa calon gubernur dan wakil gubernur yang akan merebut posisi NTB satu 2013-2018 mendatang. Hampir semuanya berlatar belakan ulama. Meskipun ada beberapa yang berlatar belakan akademisi dan politisi murni. Hal ini tentu dapat memberikan kita ketenangan sejenak, pasalnya putra-putra NTB ini akan beriktiar memberikan yang terbaik untu NTB kedepannya. Namun apakah semuanya itu benar adanya. ???
Sudah menjadi ketentuan bahwa semboyan dari calon-caon adalah perubahan untuk NTB, pertanyaannya perubahan seperti apa?? Kembali berbicara pada tahap perubahan, tentu tidak saja berkutat masalah posisi untuk meraih kursi kekuasaan. Perlu di ingat kembali rakyat sudah tidak butuh janji-janji, yang meskipun rakyar selalu saja dibodohi dengan janji-janji.
Yang paling mungkin kita pilih untuk membawa perubahan kapada daerah kita adalah yang memahami agama. Tentu semua calon hari ini telah memenuhi criteria tersebut. Lalu apakah mereka benar-benar mahamahi amanah??? Ataukah keadilan yang mereka selalu teriakan akan terwujud??? Sementara petani setiap musim tanam tiba mereka meneriakkan kelangkaan pupuk, nelayan menangis karena tangkapan ikannya semakin hari semakin berkurang serta buruh-buruh tambang yang selalu meributkan upah, selain itu pengangguran semakin ramai saja mengisi ruang jalan-jalan. Tentu ini bukan tontonan atau masalah yang baru kali ini di ketahui. Semenjak republic ini dideklirkan pun masalah ini sudah terurai jelas.
Lalu apa yang salah dengan calon pemimpin kita saat ini? Apakah patut rakyat yang memilih yang harus dipersalahkan? Apakah republic ini yang tidak terlalu respon dengan masalah-masalah di atas? Atau memang kesejahteraan itu memang tidak pernah ada?
NTB yang berdiri puluhan tahun lalu, melulu begitu adanya, dengan permasalah yang sama-sama saja. Dengan pertangayaan yang begitu-begitu saja. Sekali lagi penulis ulangi, rakyat hanya butu kesejahtraan hidup.
Kali ini sebagai ajang pembuktian, apakah pemimpin yang akan dilahirkan dari pemihan umum daerah 2013 akan benar-benar melahirkan pemimpin yang mengerti perasaan rakyatnya.
Dalam territorial NTB, tentu perasaan yang dimaksud adalah sejauh mana pemimpin nantinya dapat memberikan rasa aman bagi rakyatnya, terlalu banyak peperangan-peperangan sara yang terjadi, masih banyak rakyat yang belum mengerti kerukunan umat dan budaya. Tentu kejadian heroic yang terjadi baru-baru ini di Sumbawa basar. Rasanya sudah tidah ada lagi toleransi lagi. Bukankah ini tugas seorang pemimpin yang bijak?
Sekali lagi, pemimpin yang menjadi dambaan rakyat hari ini adalah pemimpin yang mengerti plurarisme, mengerti perasaan rakyat, mengerti kadadilan serta patuh berkarya hanya untuk kamaslahatan. Bukan justru pemimpin yang hanya bisa mengurusi dan merias diri saja. Rakyat NTB mutuh pemimpin yang lengakap, bukan pemimpin yang cacat. Rakyat NTB butuh pemimpin yang taat bukan pemimpin yang laknat rakyat. Rakyat NTB butuh pemimpin yang merakyat, bukan yang suka saling menghujat.
Tulisan ini merupakan isi hati anak bangsa yang merindukan kedamaian, yang mengharapkan tontonan menarik dalam pesta bersama, bukan merebut dengan paksaan. Namun apakah pantas memilih pemimpin yang tamak kekuasaan?
       Sudah saatnya masyarakat NTB bijak dalam memilih pemimpinnya. Kini saanya rakyat memilih pemimpin yang cinta rakyat, bukan yang selalu berbohong kapada rakyat.  Kasekian kalinya, rakyat membutuhkan pemimpin yang taat bukan pemimpin yang laknat dan senang menghujat untuk Nusa Tenggara Barat  yang bertabat.**

Tidak ada komentar: